Moral
adalah aturan yang bersumber dari hati nurani untuk membimbing perilaku dan
cara berpikir. Perilaku manusia dalam bertindak didorong oleh tiga hal pertama
berdasarkan akal semata kedua berdasarkan nafsunya dan ketiga berdasarkan hati
nuraninya. Ketika nafsu seseorang terisi nilai-nilai negatif yang tidak mampu
membedakan antara benar dan salah, maka orang tersebut akan menjadi bencana
yang setiap saat dapat memutarbalikkan benar menjadi salah atau salah menjadi
benar. Nilai-nilai positif akan menciptakan keunggulan moral baik. Dan
hasilnya, orang-orang dengan moral baik, akan menjalankan etika dan integritas
pribadi di tempat kerja, dengan memiliki hati nurani yang mampu membedakan
antara benar dan salah melalui kekuatan empati. Hati nurani adalah penghasil
moral, hati nurani selalu berisi dengan hal-hal dan nilai-nilai positif,
hati nurani selalu menghasilkan kualitas moral yang cerdas untuk
memutuskan apa yang baik, apa yang buruk, apa yang benar, apa yang tidak benar,
apa yang adil, apa yang tidak adil, apa yang manusiawi, dan apa yang tidak
manusiawi. Pada akhirnya, kualitas moral yang baik akan memiliki empati yang
unggul, dalam kecerdasan dan kesadaran sosial yang tinggi. Sebaliknya akal kita
kadang kadang bersifat baik kadang bersifat buruk sejauh mana peran nafsu dan
hati nurani terhadap akal. Dengan akal kita bisa berkreatifitas dan
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi siapapun. Sebaliknya akal juga dapat
membawa kehancuran semua sendi sendi kehidupan , dengan kemajuan tehnologi akal
dapat menciptakan sesuatu yang dapat menimbulkan kerusakan dan kebaikan dimuka
bumi.
Akhlak
yang mulia haruslah menjadi sebuah perilaku, pilihan hidup, kepribadian, dan
karakter yang dapat diperlihatkan dalam rutinitas hubungan sehari-hari .
Implementasi akhlak yang mulia dimanapun akan memperkuat integritas pribadi,
untuk memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik dalam satu persepsi. Akhlak
mulia selalu menjadi landasan yang kuat dalam membangun hubungan yang harmonis,
dan juga menjadi kekuatan untuk membangun keyakinan dalam menyelesaikan konflik
di manapun, dengan akal yang paling sehat dan paling jujur, sehingga setiap
persoalan dapat diselesaikan melalui hati nurani yang paling bersih.
Tanpa
hati nurani, maka setiap perilaku sangat berpotensi untuk menjadi tidak
jujur dalam kepentingan masing-masing pihak. Bila setiap pihak
berlomba-lomba untuk memikirkan kepentingannya masing-masing, dan
mengabaikan suara hati nurani, maka dalam waktu singkat keahancuran sendi sendi
kehidupan akan terjadi. Motivasi untuk berbuat sesuai hati nurani dalam
hubungan antar manusia,dapat meningkatkan kualitas integritas pribadi dan
perilaku beretika dan berkarakter, maka siapapun harus memiliki moral
yang unggul dari hati nurani, untuk membimbing perilaku dan cara berpikir dalam
setiap tindakannya. Membuka kesadaran hati nurani untuk mampu membedakan antara
benar dan salah, serta memiliki karakter diri yang kuat untuk memutuskan apa
yang baik dan buruk.
